Selasa, 15 Desember 2015

VARIASI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Perbedaan individu penting dibahas dan dipahami oleh pendidik agar para pendidik bisa memahami perbedaan dari asing-masing peserta didik. Setiap individu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga sering timbulnya permasalahan akibat perbedaan itu. Permasalahan ini kita akan mengetahui berbagai macam perbedaan individu, diantaranya perbedaan kognitif, perbedaan kecakapan bahasa, perbedaan kecakapan motorik, perbedaan latar belakang, perbedaan bakat, perbedaan kesiapan belajar, perbedaan tingkat pencapaian, perbedaaan lingkungan keluarga, latar belakang budaya dan etnis, dan faktor pendidikan.
Perkembangan zaman menimbulkan perubahan dan kemajuan dalam masyarakat. Aspek perubahan meliputi: sosial, politik, ekonomi, industri, informasi dsb. Akibatnya ialah berbagai permasalahan yang dihadapi oleh individu, misalnya, pengangguran, syarat-syarat pekerjaan, penyesuaian diri, jenis dan kesempatan pendidikan, perencanaan dan pemilihan pendidikan, masalah hubungan sosial, masalah keluarga, keuangan, masalah pribadi, dsb. Walaupun pada umumnya masing-masing individu berhasil mengatasi dengan sempurna, sebagian lain masih perlu mendapatkan bantuan.
2.      Rumusan Masalah
1)      Apa pengertian peserta didik ?
2)      Apa perbedaan antara masing-masing individu ?
3)      Bagaimana karakteristik individu dalam implikasi pendidikan ?
3.      Tujuan
1)      Mengetahui pengertian peserta didik.
2)      Dapat membedakan perbedaan masing-masing individu.
3)      Mengetahui bagaimana karakteristik peserta didik dalam implikasi pendidikan.






BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Psikologi dan Peserta Didik
Secara etimologi psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup dan “ Logos” yang berarti ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa karena jiwa merupakan sesuatu yang bersfat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung.
Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk dikaji adalah manifastasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk prilaku individual dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
a.       Psikologi Perkembangan : mengkaji prilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.
b.      Psikologi Kepribadian : mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek-aspek kepribadiannya.
c.       Psikologi Klinis : mrngkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (Klinis)
d.      Psikologi Abnormal : mengkaji perilkau individu yang tergolong abnormal
e.      Psikologi Industri : mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia Industri.
f.        Psikologi Pendidikan : mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikn disamping jenis-jenis psikologi yang disebutkan diatas masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya. Psikologi Pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
·         Ontologis : obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik,pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarkat pendidikan.
·         Epistemology : teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil-dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui beragai studi longitudinal maupun studi cross secitional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
·         Aksiologis : psikologis pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji prilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta.
Kegitan pendidikan khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, proses belajar mengajar, system evaluasi , dan layanan bimbingan dan konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikn yang didalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatau kegiatan yang didalamnya melibatkan banyak orang. Diantaranya peserta didik, pendidik administrator, masyarakat dan orang tua peserta didik.
Peserta didik merupakan subjek yang menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Jadi dalam mempelajari dan memperlakukan peserta didik, termasuk peserta didik usia SD/MI hendaknya dilakukan secara utuh, tidak terpisah-pisah.
Dalam proses pendidikan, peserta didik merupakan salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral. Sebagai salah satu komponen penting dalam system pendidikan, peserta didik  sering disebut sebagai “raw material” ( bahan material)
Berdasarkan beberapa definisi tentang peserta didik yang disebutkan atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik individu yang memiliki sejumlah karakteristik, diantaranya :
Ø  Peserta Didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas sehingga ia merupakan insan yang unik.
Ø  Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang, artinya peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya yang ditunjukan kepada diri sendiri maupun yang diarahkan pada penyesuaian dengan lingkungannya.
Ø  Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
Ø  Peserta didik individu yang memiliki kamampuan untuk mandiri .
Siswa merupakan sebutan untuk anak didik pada jenjang pendidikan dasar dan juga menengah. Siswa merupakan satu-satunya subjek yang menerima apa saja yang diberikan oleh guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Siswa digambarakan sebagai sosok yang membutuhkan bantuan orang lain untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Selain memperoleh ilmu pengetahuan siswa juga mengalami perkembangan serta pertumbuhan dari kegiatan pendidikan tersebut. Peserta didik yang pada umumnya merupakan individu yang memliki potensi yang dirasa perlu dikembangkan melalui pendidikan baik fisik maupun psikis lingkunagn keluarga dan lingkungan masyarkat dimanapun ia berada.
UU RI No. 20 tahun 2003 telah mencantumkan bahwa peserta didik memiliki kewajiban sebagai berikut :
1)      Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.
2)      Ikut menanggung biaya pendidikan kecuali bagi yang dibebaskan dari kewajiban tersebut.


             













B. Karakteristik Perkembamgan Peserta Didik
Secara garis besarnya aspek-aspek perkembangan meliputi: perkembangan fisik motorik dan otak, perkembangan kognitif, dan perkembangan sosioemosional. Secara umum karakteristik perkembangan peserta didik dibedakan seperti berikut:
v  Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar (SD)
Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun. Kalau mengacu pada pembagian tahapan perkembangan anak berarti anak usia sekolah berada dalam dua masa perkembangannya,yaitu masa  kanak-kanak tengah (6-9), dan masa kanak-kanak akhir (10-12).
Menurut Havighurst, tugas perkembangan anak usia sekolah dasar meliputi:
·         Menguasai ketereampilan fisisk yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik.
·         Membina hidup sehat.
·         Belajar bergaul dan bekerja dengan kelompok.
·         Belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin.
·         Belajar membaca,menulis,dan berhitung agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat.
·         Memperoleh sejumlah konsep yang yang diperlukan untuk berpikir efektif.
·         Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai.
·         Mencapai kemandirian pribadi.
Dalam upaya mencapai setiap tugas perkembangan tersebut, guru dituntut untuk memberikan bantuan berupa:
·         Menciptakan lingkungan teman sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik.
·         Melaksanakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar, bergaul dan bekerja dengan teman sebaya, sehingga kepribadian sosialnya berkembang.
·         Mengembangkan kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman yang konkret atau langsung dalam membangun konsep.


v  Karakteristik Anak Usia Sekolah Menengah (SMP)
Terdapat sejumlah karakteristik yang menonjol pada anak usia SMP ini,yaitu:
·         Terjadinya ketidakseimbangan proporsi tinggi dan berat badan.
·         Mulai timbulnya cirri-ciri seks sekunder.
·         Reaksi dan ekspresi emosi masih labil.
Adanya karakteristik anak usia sekolah menengah yang demikian, maka guru diharapkan un tuk:
·         Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan hobi dan minatnya melalui kegiatan-kegiatan yang positif.
·         Menerapkan pndekatan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual atau kelompok kecil.
·         Meningkat kerja sama dengan orangtua dan masyarakat untuk mengembangkan potensi siswa.
v   Karakteristik Anak Usia Remaja (SMA)
Masa remaja (12-21 tahun)merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa. Masa remaja sering dikenal dengan masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja ditandai dengan sejumlah karakteristik penting, yaitu:
·         Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya.
·         Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.
·         Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.
Berbagai karakteristik perkembangan masa remaja tersebut, menurut adanya pelayanan pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat dilakukan guru, diantaranya:
·         Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, bahaya penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkotika.
·         Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatif terhadap postur tubuh atau kondisi dirinya.
·         Memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
C. Teori-teori Tentang Hakikat Perkembangan Peserta Didik
Berikut akan diuraikan beberapa teori psikologi tentang hakikat manusia tersebut.
v  Pandangan Psikodinamika
Teori psikodinamika adalah teori psikologi yang berupaya menjelaskan hakikat dan perkembangan tingkah laku ( kepribadian) manusia.
Menurut Freud, sedikit ide-ide, harapan-harapan, dan implus-implus yang ada dalam diri individu dan yang menentukan tingkah laku mereka. Sebaliknya, bagian dari pikiran yang lebih besar, yang meliputi harapan-harapan, kekuatan-kekuatan, permukaan kesadaran (unconscious). Berdasarkan ide-ide pokok tentang tingkah laku manusia tersebut freud kemudian membedakan kepribadian manusia atas tiga unit mental atau struktur psikis, yaitu:
  • Id
Merupakan aspek biologis kepribadian karena berisikan unsure-unsur biologis, termasuk didalamnya dorongan-dorongan dan implus-implus instinktif yang lebih dasar ( lapar, haus, seks, dan agresi). Id bekerja mengikuti prinsip kesenangan (pleasure principle), yang dioperasikan pada dunia proses: pertama, refleks dan reaksi otomatis (seperti: bersin, berkedip); kedua, proses berpikir primer (primary process thinking) yang merupakan proses dalam berhubungan dengan dunia luar melalui imajinasi dan fantasi.
  • Ego
Merupakan aspek psikologi kepribadian karena timbul dari kebutuhan organism untuk berhubungan secara baik dengan dunia nyata dan menjadi perantara antara kebutuhan instinktif organisme dengan keadaan lingkungan. Karena fungsi utama ego adalah: 1).  Menahan penyaluran dorongan ; 2). Mengatur desakan dorongan-dorongan yang sampai pada kesadaran; 3).Mengarahkan suatu perubahan agar mencapai tujuan-tujuan yang dapat diterima; 4).berpikir logis; 5). Mempergunakan pengalaman emosi-emosi kecewa atau kesal sebagai tanda adanya sesuatu yang salah,yang tidak benar.
  • Superego
Adalah aspek sosiologis kepribadian karena merupakan wakil nilai-nilai tradisional dan cita-cita masyarakat sebagaimana yang ditafsirkan orangtua kepada anak-anaknya melalui berbagai perintah dan larangan. perhatian superego adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah, sehingga dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui oleh masyarakat.
v  Pandangan Behavioristik
Behavioristik adalah sebuah aliran dalam dalam pembahasan tingkah laku manusia yang dikembangkan oleh jhon B. Watson (1878-1958), seorang ahli psikologi Amerika, pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika.
Watson dan teoristik behavioristik lainnya, sepertti skinner (1904-1990) meyakini bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil dari pembawaan genetis dan pengaruh lingkungan atau situasional.
v  Pandangan Humanistik
Teori humanistik muncul pada pertengahan abad ke-20 sebagai reaksi terhadap teori psikodinamika dan behavioristik. Para teoritikus humanistik, seperti Carl Rongers (1902-1987) dan Abraham Maslow (1908-1970) meyakini bahwa tingkah laku manusia tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari konflik-konflik yang tidak disadari maupun sebagai hasil pengondisian (conditioning) yang sederhana. Menurut Rongers, salah seorang tokoh aliran humanistic, prasyarat dari terpenting bagi aktualisasi diri adalah konsep  diri yang luas dan fleksibel.
v  Pandangan Psikologi Transpersonal
Psikologi transpersonal merupakan pengembangan psikologi humanistic. Aliran psikologi ini disebut aliran keempat psikologi. S.I Shapiro dan Denise H. Lojoie (1992) menggambarkan psikologi transpersonal.
Psikologi transpersonal berawal dari penelitian-penelitian psikologi kesehatan yang dilakukan oleh Abraham Maslow pada tahun 1990-an. Maslow melakukan serangkaian penelitian tentang pengalaman-pengalaman keagamaan, seperti “ pengalaman pengalaman puncak” (peak misalnyaperiences).

D. Perbedaan  Individual Pekembangan Peserta Didik
Dalam kajian psikologi, masalah individu mendapat perhatian yang besar sehingga melahirkan cabang psikologi yang dikenal dengan individual psychology atau differential  psychology, yang memberikan perhatian besar terhadap penelitian tentang perbedaan individu.
Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai perseorangan atau personal. Sebagai orang perseorangan individu memiliki sifat-sifat atau karakteristik yang menjadikannya berbeda dengan makhluk lainnya. Perbedaan inilah yang disebut dengan perbedaan individual (individual difference). Secara umum, perbedaan individual dibagi menjadi dua yaitu, perbedaan secara vertical dan perbedaan secara horizontal. Perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti : bentuk, tinggi, besar, kekuatan dan sebagainya. Perbedaan horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental seperti: tingkat kecerdasan, bakat, minat, ingatan, emosi, tempramen, dan sebagainya.
Berikut ini akan diuraikan beberapa aspek perbedaan individual peserta didik tersebut.
  1. Perbedaan Fisik – Motorik
Perbedaan individual dalam fisik tidak hanya terbatas pada aspek-aspek yang teramati oleh panca indera, seperti: bentuk atau tinggi badan, warna kulit, warna mata atau rambut, jenis kelamin, nada suara atau bau keringat, melainkan juga mencakup aspek-aspek fisik yang tidak dapat diamati melalui pancaindera.
Perbedaan aspek fisik juga dapat dilihat dari kesehatan peserta didik, seperti kesehatan mata dan telinga. Dalam hal kesehatan mata misalnya, akan ditemui adanya peserta didik yang mengalami gangguan penglihatan, seperti: rabun jauh, kesehatan telinga, akan ditemui adanya peserta didik yang mengalami penyumbatan pada saluran liang telinga, ketegangan pada gendang telinga, terganggunya tulang-tulang pendengaran, dan seterusnya.
  1. Perbedaan Intelegensi
Intelegensi adalah salah satu kemampuan mental, pikiran atau intelektual dan merupakan bagian dari  proses kognitif pada tingkatan yang lebih tinggi. Secara ilmu intelegensi dapat dipahami sebagai kemampuan beradaptasi dengan situasi yang baru secara cepat dan efektif.
Untuk mengetahui tinggi rendahnya intelegensiesera didik para ahli telah mengembangkan instrument yang dikenal “ test intelegensi” yang kemudian lebih dikenal dengan istilah intelligence Quotient, disingkat IQ.
Berdasarkan hasil tes intelegensi, peserta didik dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
  1. Anak Genius
IQ diatas 140
  1. Anak Pintar
110 – 140
  1. Anak Normal
90 – 110
  1. Anak Kurang Pintar
70 – 90
  1. Anak Debil
50 – 70
  1. Anak Dungu
30 – 50
  1. Anak Idiot
IQ dibawah 30

Genius adalah sifat pembawaan luar biasa yang dimiliki seseorang, sehingga ia mampu mengatasi kecerdasan orang- orang biasa dalam bentuk pemikiran dan hasil karya. Sedangkan idiot atau pander adalah penderita lemah otak, yang hanya memiliki keampuan berpikir setingkat dengan kecerdasan anak yang berumur tiga tahun (Murasal, 1981).
  1. Perbedaan Kecakapan Bahasa
Kemampuan berbahasa adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dalam kalimat yang bermakna, logis, dan sistematis. Kemampuan berbahasa anak didik berbeda – beda, ada yang berbicara dengan lancar , singkat dan jelas, ada pula yang gagap, berbicara, berbelit – belit dan tidak jelas.
Dari hasil beberapa penelitian bahwa faktor nature dan nurture ( pembawaan dan lingkungan) sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Karena itu, tidak heran kalau antara individu yang satu dan yang lainnya berbeda dalam kecakapannya. Faktor yang mempengaruhi perbedaan kecakapan berbahasa anak yaitu: faktor kecerdasan, pembawaan, lingkungan fisik, terutama organ bicara, dan sebagainya.
  1. Perbedaan Psikologis
Perbedaan psikologis peserta didik juga terlihat dari aspek psikologisnya. Ada anak yang mudah tersenyum, gampang marah, berjiwa sosial, sangat egoistis, cengeng, pemalas, rajin, dan ada pula anak yang pemurung dan seterusnya.
Persoalan psikologis memang sangat kompleks dan sangat sulit dipahami secara tepat, karena menyangkut apa yang ada didalam jiwa dan perasaan peserta didik. Guru dituntut untuk mampu memahami fenomena – fenomena tersebut. Salah satu cara yang mungkin dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan kepada peserta didik secara pribadi. Dengan cara ini mungkin guru dapat mengenal siapa sebenarnya peserta didik tersebut, keinginan – keinginannya, dan kebutuhan – kebutuhan yang ingin dicapainya.
E. Hukum – Hukum Perkembangan
1.       Hukum Ceaphalocoudal
Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Bagian – bagian pada kepala tumbuh lebih dahulu daripada bagian – bagian lain. Hal ini sudah terlihat pada pertumbuhan prenatal, yaitu pada janin. Seorang bayi yang baru dilahirkan mempunyai bagian – bagian dan alat – alat pada kepala yang “lebih matang” daripada bagian – bagian tubuh lainnya. Bayi bisa menggunakan mulut dan matanya lebih cepat daripada anggota badan lainnya. Baik pada masa prenatal, neonatal, maupun anak – anak, proporsi bagian kepala dengan rangka batang tubuhnya mula – mula kecil dan makin lama perbandingan ini makin besar.
2.       Hukum Proximodistal
Hukum Proximodistal adalah hukum yang berlaku pada pertumbuhan fisik, dan menurut hukum ini pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Alat – alat tubuh yang terdapat dipusat, seperti jantung, hati, dan alat – alat pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ada ditepi. Hal ini tentu saja karena alat –alat tubuh yang terdapat pada daerah pusat itu lebih vital daripada misalnya anggota gerak seperti tangan, kaki. Anak masih bisa melangsungkan kehidupannya bila terjadi kelainan –kelainan pada anggota gerak, akan tetapi bila terjadi kelinan sedikit saja pada jantung atau ginjal bisa berakibat fatal.
Ditinjau dari sudut biologis, sudut anatomis, dan sudut ilmu faal masih banyak lagi ketentuan yang berhubungan dengan pertumbuhan, struktur dan fungsi, serta kefaalan anggota tubuh. Misalnya dalam hal kematangan, anggota – anggota tubuh akan tumbuh, berkembang, dan berfungsi yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Contohnya terlihat pada kelenjar – kelenjar kelamin, yang baru mulai berfungsi (matang) ketika anak memasuki masa remaja pada saat ini terjadi.
3.       Perkembangan Terjadi dari Umum ke Khusus
Pada setiap aspek terjadi perkembangan yang dimulai dari hal – hal yang umum, kemudian berangsur menuju hal yang khusus. Terjadi proses differensiasi  seperti yang dikemukakan oleh Werner. Anak akan lebih dulu mampu menggerakan lengan atas, lengan bawah, tepuk tangan baru kemudian menggerakan jemarinya. Dari sudut perkembangan juga terlihat hal yang tadinya umum ke khusus.
4.       Perkembangan Berlangsung dalam Tahapan – Tahapan Perkembangan
Pada setiap masa perkembangan terdapat ciri – ciri perkembangan yang berbeda dalam setiap fase perkembangan. Sebenarnya ciri – ciri perkembangan sebelumnya diperlihatkan pada masa berikutnya., hanya saja terjadi dominasi pada ciri – ciri yang baru. Namun demikian ada aspek – aspek tertentu yang tidak berkembang dan tidak meningkat lagi, hal ini disebut fiksasi.
5.       Hukum Tempo dan Ritme Perkembangan
Setiap tahap perkembangan tidak berlangsung secara melompat – lompat. Akan tetapi, menurunkan suatu pola tertentu dengan tempo dan irama tertentu pula. Yang ditentukan oleh kekuatan yang ada dalam diri anak.
Dalam praktik, sering terlihat dua hal sebagai petunjuk keterlambatan pada keseluruhan perkembangan mental, yakni:
a.       Jika perkembangan kemampuan fisik untuk berjalan jauh tertinggal dari patokan umum, tanpa ada sebab khusus pada fungsionalistik fisik yang terganggu.
b.       Jika perkembangan kemampuan sangat terlambat dibandingkan dengan anak – anak yang lain pada masa perkembangan yang sama.
F. Karakteristik Individu
        Karakteristik individu adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada individu sebagai hasil dari pembawaan lingkungannya. Jadi, lingkungan menentukan karakteristik seseorang. Seorang anak yang pemarah dank keras kepala dihasilkan dari lingkungan yang keras begitu juga sebaliknya, seorang anak yang penyabar dihasilkan dari lingkungan yang baik.
Ada dua faktor yang mempengaruhi karakteristik individu baik fisik, mental atau emosional, yaitu :
  1. Nature ( alam dan sifat dasar ) adalah karakteristik individu yang dibawa sejak lahir atau diwariskan
  2. Nuture ( pemeliharaan dan pengasuhan ) adalah adalah faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak masa pembuahan sampai selanjutnya.
Dalam hal ini proses pendidikan harus sesuai dengan karakteristik individu peserta didik agar masing-masing individu peserta didik dapat belajar secara optimal.
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam karakteristik individu :
  1. Karakteristik, yang berkenaan dengan kemampuan awal (prerequisite skills) seperti, kemampuan intelektual, berpikir dan kemampuan2 psikomotor lainnya.
  2. Karakteristik, yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosio cultural.
  3. Karakteristik, yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian, seperti: sikap, perasaan, minat dan lain-lain.
Bagi guru khususnya, pemahaman tentang karakteristik individu sangat penting dalam memilih dan menentukan pola-pola pengajaran yang lebih baik atau yang lebih berguna bagi peserta didik.
G. Perkembangan Anak Masa Usia Sekolah Dasar (6-12 tahun)
  1. Perkembangan Intelektual
Pada anak usia 6-12 tahun sudah bisa mereaksi rangsang intelektual nya, melakukan tugas-tugas belajarnya menurut kemampuan intelektual dan kemampuan kognitif nya seperti, membaca, menulis dan menghitung. Pada masa pra sekolah pola piker anak masih imajinatif (khayalan), sedangkan pada masa sekolah pola pikirnya sudah bersifat konkrit dan rasional. Menurut piaget masa ini disebut masa operasi konkrit, yaitu berakhirnya berpikir khayal dan mulai berpikir konkrit. Pada masa ini ditandai dengan 3 kemampuan dan kecakapan baru,
A.     Mengklasifikasikan, menghubungkan ungkapan angka-angka
B.     Kemampuan menghitung, menambah, dan mengurangi
C.     Kemampuan anak memecahkan masalah sederhana
  1. Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah sarana komunikasi dengan orang lain. Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal, dan menguasai vocabulary atau perbendaharaan kata, terdapat 2 faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
a.       Proses jadi matang, dengan kata lain anak itu menjadi matang (organ suara sudah berfungsi)
b.       Proses belajar, yang berarti anak telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan memanipulasi atau meniru ucapan yang didengarnya.
Kedua proses ini terjadi pada masa bayi dan anak-anak, sehingga pada masa sekolah dasar anak sudah bisa menyusun kalimat dengan sempurna. Disekolah diadakan pelajaran bahasa untuk menambah perbendaharaan kata sehingga anak dapat menggunakan bahasanya dengan baik.
  1. Perkembangan Sosial
Merupakan pencapaian kematangan pada interaksi sosial, dengan kata lain anak-anak sedang belajar menyesuaikan diri pada norma-norma kelompok, tradisi dan moral. Yang ditandai dengan perluasan hubungan baik dengan keluarga, teman atau lingkungan sekolah. Anak mulai menyesuaikan diri sendiri (egosentris) pada sikap kerjasama (kooperatif) atau memperhatikan kepentingan orang lain (sosiosentris), anak akan merasa senang jika dia diterima dikelompoknya dan tidak senang jika dia ditolak dikelompoknya.
Kematangan sosialnya dapat dimaknai dengan, memberikan tugas-tugas kelompok baik secara fisik maupun tugas yang membutuhkan pikiran.
  1. Perkembangan Emosi
Menginjak usia sekolah dasar, anak sudah mulai belajar untuk mengontrol emosinya karena mengungkapkan emosi secara kasar tidaklah diterima oleh orang lain. Kemampuan mengontrol emosi ini akan semakin baik apabila anak dilatih dan berada dilingkungan yang stabil.
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku, dalam hal ini adalah tingkah laku belajar. Emosi pada perkembangan usia sekolah dasar secara umum meliputi marah, cemburu, iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu, senang, nikmat, dan bahagia. Emosi positif akan berakibat baik bagi aktivitas hariannya, tetapi jika emosinya negatif maka akan mengganggu proses belajarnya.
  1. Perkembangan Moral
Anak mulai mengenal konsep moral atau mengenai benar dan salah dilingkungan keluarga, dan akan menjadi gambaran pada tingkah lakunya di kemudian hari. Pada usia sekolah dasar anak sudah mulai mengikuti tuntutan keluarga dan lingkungan sosialnya. Kemudian, pada usia akhir sekolah dasar anak sudah dapat memahami alasan dari sebuah aturan.
Dan anak sudah mulai mengasosiasikan segala bentuk perilaku dengan konsep benar dan salah.
  1. Perkembangan Motorik
Pada masa ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan motorik seperti, melukis, menggambar, berenang, dan sebagainya. Karena pada usia ini perkembangan fisiknya sudah mulai beranjak matang dan aktivitas motoriknya sangat lincah.
Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor penentu kelancaran proses belajar, baik dibidang pengetahuan maupun keterampilan. Perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan belajar, pada usia sekolah dasar kematangan perkembangan motorik ini pada umumnya dicapai saat mereka sudah siap menerima pelajaran keterampilan.
  1. Perkembangan Keagamaan
Pada usia ini pandangan keagamaan anak diperoleh secara rasional berdasarkan logika pada indikator alam semesta sebagai ciptaan tuhan.
Penghayatan rohaniyah nya mulai mendalam, kegiatan ritual seperti solat mereka laksanakan berdasarkan keharusab moral. Oleh karena itu pendidikan agama di sekolah dasar sangat penting untuk membantu membentuk pribadi serta akhlak yang baik.
a.       Tugas perkembangan anak masa usia 6-12 tahun
Pada masa ini anak mulai belajar didalam dan diluar sekolah. Belajar dilakukan disekolah kemudian dilanjutkan dirumah untuk mendukung hasil belajar disekolah.
Menurut Robert J. Hagvighurst, anak pada masa ini mempunyai tugas-tugas perkembangan :
1.       Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan ; bermain sepak bola, loncat tali dan berenang
2.       Belajar membentuk sikap yang sekap terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis
3.       Belajar bergaul dengan teman-teman sebayanya
4.       Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya
5.       Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung
6.       Belajar mengembangkan konsep sehari-hari
7.       Membentuk hati nurani, nilai moral dan nilai sosial
8.       Memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi
9.       Membentuk sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga
Dalam perkembangan ini anak masih perlu mengembangkan pengetahuan melalui belajar. Belajar secara sistematis disekolah juga membentu kebiasaan dan sikap dirumah dan lingkungannya. Anak juga perlu diberi pujian sebagai reward atas prestasi yang diraihnya, serta pengawasan dari guru dan orang tua sangat perlu untuk memunculkan sikap dan kebiasaan yang baik.
b.      Perkembangan Fisik, Kognitif, Psikologi anak usia/masa Sekolah Dasar (6-12 tahun)
1)      Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik anak usia sekolah dasar cenderung lebih lambat dan konsisten disbanding anak usia dini. Menurut F. A Hadis (1996) Rata-rata anak usia sekolah dasar mengalami penambahan berat badan sekitar 2,5 – 3,5 kg, dan penambahan tinggi badan 5-7 cm per tahun.
Oleh karena itu, masa ini disebut juga masa tenang sebelum menjelang masa remaja.tetapi pertumbuhan fisik ini tidak berarti, karena saat masa ini terjadi terutama saat bertambahnya ukuran sistem rangka otot, serta ukuran beberapa organ tubuh. Pada saat yang sama kekuatan otot-otot secara berangsur-angsur bertambah dan gemuk bayi (babyfat) berkurang. Pertambahan kekuatan otot ini adalah karena faktor keturunan dan latihan (olah raga) karena faktor perbedaan jumlah sel-sel otot, maka pada umumnya untuk laki-laki lebih kuat daripada anak perempuan. (santrock, 1995). Selain itu pertumbuhan fisik atau jasmani sebagai berikut :
a)      Perkembangan fisik atau jasmani anak sangat berbeda satu sama lain, sekalipun anak-anak tersebut usia relative sama, bahkan dalam kondisi ekonomi yang relative sama pula. Sedangkan pertumbuhan anak-anak berbeda ras juga menunjukan perbedaan yang menyolok. Hal ini antara lain : disebabkan perbedaan gizi, lingkungan, perlakuan orang tua terhadap anak , kebiasaan hidup dan lain-lain.
b)      Nutrisi dan kesehatan amat mepengaruhi perkembagan fisik anak, kekurangan nutirsi dapat menyebabkan pertumbuhan anak menjadi lamban, kurang berdaya dan tidak aktif.  Sebaliknya anak yang memperoleh makanan yang bergizi, lingkungan yang menunjang, perlakuan orang tua serta kebiasaan hidup yang baik akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.
c)      Olahraga juga merupakan faktor penting pada pertumbuhan fisik anak. Anak yang kurang berolahraga atau tidak aktif seringkali menderita kegemukan dan kelebihan berat badan yang dapat mengganggu gerak dan kesehatan anak.
d)      Orang tua harus selalu memperhatiakn berbagai macam penyakit yang sering diderita anak.
2)      Perkembangan Kognitif
Seiring dengan masuknya anak ke sekolah dasar kemampuan kognitifnya berkembang pesat karena, dengan masuk sekolah anak menjajaki dunia baru dan memperoleh pengetahuan baru yang lebih luas. Kalau pada masa sebelumnya anak berpikir imajinatif, sekarang anak berpikir konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya sangat kuat sehingga anak benar-benar berada di stadium belajar,
Menurut teori Piaget, pemikiran anak masa SD disebut juga pemikiran operasional konkrit (concrete operational thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek peristiwa nyata atau kongkrit, dalam upaya memahami alam sekitarnya mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indra, karena anak mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya (logikanya).
3)      Perkembangan Intelektual dan Emosional anak usia Sekolah Dasar (SD)
a)      Perkembangan Intelektual anak sangat tergantung pada berbagai faktor utama antara lain, kesehatan gizi, kebugaran jasmani, pergaulan dan pembinaan orang tua
b)      Perkembangan emosional berbeda satu sama lain karena adanya perbedaan jenis kelamin, usia, lingkungan, pergaulan dan pembinaan orang tua maupun guru disekolah. Perbedaan perkembangan emosional juga dapat dilihat berdasarkan ras, budaya, etnik dan bangsa. Perkembangan emosional juga dapat dipengaruhi oleh adanya gangguan kecemasan, rasa takut dan faktor-faktor eksternal yang sering kali tidak dikenal sebelumnya oleh anak yang sedang tumbuh.
c)      Perlakuan saudara serumah (kakak-adik), orang lain yang sering kali bertemu dan bergaul juga memegang peranan penting pada perkembangan emosional anak.
d)      Dalam mengatasi berbagai masalah yang sering kali dihadapi orang tua dan anak, biasanya orang tua berkonsultasi dengan para ahli seperti, psikiater, dokter anak dan lain sebagainya.
e)      Stress juga dapat disebabkan oelh penyakit, frustasi dan ketidak hadiran orang tua, keadaan ekonomi orang tua, keamanan dan kekacauan yang sering kali timbul. Sedangkan dari pihak orang tua yang menyebabkan stress pada anak biasanya, kurang perhatian orang tua, sering mendapat marah sampai siksaan secara jasmani, anak disuruh mengerjakan sesuatu diluar kemampuannya, dan lain sebagainya.
4)      Perkembangan bahasa
Bahasa sudah berkembang sejak anak berusia 4-5 bulan. Orang tua yang bijak selalu membimbing anaknya belajar berbicara mulai dari yang sederhana sampai anak bisa berkomunikasi dengan bahasa.
Fungsi dan tujuan, antara lain :
-          Sebagai pemuas kebutuhan
-          Sebagai alat untuk menarik orang lain
-          Sebagi alat untuk membina hubungan sosial
-          Sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri
-          Untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain
-          Untuk mempengaruhi perilaku orang lain
Potensi anak berbicara didukung oleh beberapa hal :
-          Kematangan alat berbicara
-          Kesiapan mental
-          Adanya  model yang baik untuk dicontoh oleh anak
-          Kesempatan berlatih
-          Motivasi untuk belajar dan berlatih
-          Bimbingan orang tua
Gangguan perkembangan berbicara bagi anak :
-          Anak cengeng
-          Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain.

5). Perkembangan moral, sosial dan sikap
a)      Kepada orang tua sangat dianjurkan memberikan bimbingan serta mengajarkan anak untuk bergaul dalam masyarakat dengan tepat. Orang tua juga dituntut untuk menjadi teladan yang baik bagi anak, dan memberikan hadiah jika anak berperilaku baik.
b)      Terdapat bermacam hadiah yang sering kali diberikan kepada anak yaitu, berupa materiil dan non materiil. Hadiah tersebut diberikan dengan maksud agar dikemudian hari anak berperilaku lebih positif dan diterima dalam masyarakat luar.
c)      Fungsi hadiah bagi anak, antara lain:
-          Memiliki nilai pendidikan
-          Memberikan motivasi kepada anak
-          Memperkuat perilaku
-          Memberikan dorongan agar anak berbuat lebih baik lagi.
d)      Fungsi hukuman yang diberikan kepada anak:
-          Fungsi restruktif
-          Fungsi pendidikan
-          Sebagai penguat motivasi
e)      Syarat pemberian hukuman :
-          Segera diberikan
-          Konsisten
-          Konstruktif
-          Impresional artinya, tidak ditunjukan kepada pribadi anak melainkan kepada perbuatannya
-          Harus disertai alasan
-          Sebagai alat control diri
-          Diberikan pada tempat dan waktu yang tepat.
5)      Perkembangan psikologi
Menurut teori kolhberg, dalam menganalisis perkembangan anak usia SD (6-12 tahun) membaginya menjadi 2 tahapan :
·         Tahapan pertama : usia 6-10 tahun
Dalam usia ini, anak sudah bisa menilai hukuman atau akibat yang diterimanya berdasarkan tingkat hukuman dari kesalahan yang dilakukannya. Sehingga ia sudah bisa mengetahui bahwa perilaku baik akan mampu membuatnya jauh tak mendapatkan hukuman.
·         Tahapan kedua : usia 10-12 tahun
Menurut kolhberg, pada usia ini anak sudah bisa berpikir bijaksana. Hal ini ditandai dengan ia berprilaku sesuai norma untuk disukai orang dewasa bukan karena takut dihukum. Sehinnga berbuat kebaikan pada anak usia ini lebih dinilai dari tujuannya. Pola asuh para pendidik juga berpengaruh kepada anak untuk menjadi anak yang tahu akan aturan.
  1. Pengaruh pola asuh terhadap perilaku anak
Pola asuh orang tua adalah pola prilaku yang dirasakan anak baik positif ataupun negative yang diterapkan pada anak yang bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu.
Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua :
a.       Pola asuh demokratis, adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua yang tipe ini bersikap realistis terhadap kemampuan anak dan memberi kebebasan memilih tindakan pada anak, dan tidak berharap yang berlebihan melampaui kemampuan anak.
b.       Pola asuh otoriter, menghasilkan karakteristik anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan yang baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan koperatif terhadap orang-orang.
Namun, sebaliknya pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang harus dituruti dan biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman.
Pengaruhnya terhadap perilaku anak:
Akan menghasilkan anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
c.       Pola asuh permisif, memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan. Orang tua tipe ini tidak menegur saat anak salah, namun bersifat hangat sehingga sangat disukai oleh anak. Pola asuh ini akan menghasilkan karakteristik anak yang implusive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.
d.       Pola asuh tipe pelantar, orang tua tipe ini umumnya sangat minim memberikan waktu dan biaya untuk anaknya. Waktu mereka sering digunakan untuk hal pribadi mereka seperti, bekerja dan kadang mereka memberikan uang yang sangat minim untuk anaknya. Tipe ini merupakan penelantar secara fisik dan psikis contohnya ibu yang depresi.
Pengaruhnya bagi perilaku anak adalah menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, harga diri (self esteem) yang rendah, sering bolos dan bermasalah dengan teman lain.
Perlu kita perhatikan, hendaknya kita mengetahui pola asuh mana yang kita terapkan, kemudian sesegera mungkin kita merubahnya. Dan harga diri yang rendah terutama disebabkan oleh pola asuh orang tua yang penelantar.
H. Karakteristik Dan Ciri-Ciri Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar (SD)
1.     Pengertian Karakteristik siswa
     Karakteristik berasal dari kata karakter, dalam kamus poerwadarminta dikatakan bahwa karakter adalah watak, tabiat atau sifat-sifat kejiwaan. Sedangkan menurut IR pedjawijatna mengemukakan karakter atau watak adalah seluruh aku yang ternyata dalam tindakannya (insani). Dengan beberapa pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa karakteristik siswa adalah merupakan seluruh kondisi/keadaan watak yang nyata dan timbul dalam suatu tindakan siswa dalam kehidupannya setiap saat dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan demikian, karena watak dan perbuatan manusia tidak akan lepas dari kodrat, sifat, serta bentuknya yang berbeda-beda antara seorang dengan lainnya, maka tidak heran jika bentuk dan karakter siswa juga berbeda-beda. Adapun bentuk dan karakter siswa usia sekolah dasar (SD).
 2.    Karakteristik Perkembangan anak usia Sekolah Dasar (SD)
a.     Senang bermain
     Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih-lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyognya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan didalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai.
b.     Senang bergerak
     Guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak (movebel). Menyuruh anak untuk duduk rapi jangka waktu lama, dirasakan anak sebagai siksaan. Oleh karena itu guru profesional harus memberikan layanan yang baik agar anak dapat bergerak secara leluasa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
c.     Anak senang bekerja dalam kelompok
     Dari pergaulannya dengan kelompok sebaya, anak usia sekolah dasar belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak bergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat. Karakterisitik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok.
d.     Senang merasakan atau melakukan, memperagakan sesuatu secara langsung
     Seperti yang dikatakan oleh jean piaget dengan teori perkembangan kognitifnya, dijelaskan bahwa anak usia sekolah dasar (SD) memasuki tahap operasional konkret. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang berkualitas dan memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran sesuai dengan tuntutan .

3.     Ciri-Ciri Perkembangan anak usia sekolah dasar (6-12 tahun)
1)     Ciri-Ciri Perkembangan Anak Usia 7 Tahun
a.     Fisik
•      Pandangan terbatas
•      Bekerja dengan kepala diatas meja
•      Mengenggam pensil (diujung)
•      Dapat menulis dengan rapi
•      Kadang-kadang tegang
•      Suka ruang yang telah ditentukan
•      Sering merasa terluka, bisa nyata atau pura-pura.
b.     Sosial
•      Suka menyendiri, tertutup
•      Membutuhkan penguatan terus menerus (aman & teratur)
•      Kadang murung, sedih, merajuk, malu.
•      Merasa tidak banyak orang yang menyukainya (berubah)
•      Percaya pada guru untuk membantunya
•      Sensitif pada perasaan orang lain. Kadang suka mengadu
•      Tidak suka melakukan kesalahan
•      Kuat perasaan suka dan tidak suka
•      Menjaga kerapian meja dan lingkungan
c.     Bahasa
•      Pendengar yang baik
•      Pembicara yang tepat
•      Suka dialog / percakapan berpasangan
•      Perkembangan kosa kata cepat
•      Tertarik cari arti / maksud kata
•      Suka sampaikan catatan kecil
•      Berminat dengan bermacam-macam simbol
d.     Kognisi
•      Suka mengulang pelajaran
•      Butuh akhir kegiatan yang jelas (lengkapi dengan tugas)
•      Suka bekerja secara bertahap (sedikit demi sedikit)
•      Suka bekerja sendiri
•      Suka dibacakan
•      Suka menghapus (ingin sempurna)
•      Ingin menemukan bagaimana suatu benda bekerja



2)     Ciri-Ciri Perkembangan Anak Usia 8 Tahun
a.     Fisik
•      Bergerak cepat, bekerja dengan tergesa-gesa
•      Penuh dengan energi
•      Perlu pelepasan energi secara fisik
•      Kadang sedikit aneh
•      Rentang kosentrasi terbatas
•      Memiliki pandangan dekat dan jauh sama kuat
b.     Sosial
•      Bersifat sangat baik, penuh dengan humor
•      Suka bekerjasama
•      Sering “ menggigit lebih dari dikunyah” salah dalam memperkirakan kemampuan mereka
•      Resisten (bertahan) membuat alasan dengan cepat ketika membuat kesalahan
•      Lebih suka kegiatan yang sama dengan teman sejenis
•      Bermasalah dengan aturan dan batasan-batasan
•      Kelompok pertemanan lebih banyak dari usia 7 tahun
c.     Bahasa
•      Bicara aktif
•      Mendengarkan tapi penuh dengan gagasan sehingga tidak dapat selalu ingat apa yang telah dikatakanya.
•      Melebih-lebihkan dalam bicara
•      Suka dalam menjelaskan gagasan
•      Perluasan kosa kata yang sangat cepat
d.     Kognisi
•      Suka kegiatan kelompok
•      Suka menghasilkan sesuatu
•      Sering bekerja dengan keras / kuat
•      Mulai mahir dalam keterampilan dasar
•      Mulai merasakan kemampuan keterampilannya.
3)     Ciri-Ciri Perkembangan Anak Usia 9 Tahun
a.     Fisik
•      Meningkat dalam koordinasi geraknya
•      Tertantang melakukan kegiatan fisik sekuatnya (memaksa)
•      Sering terluka
•      Banyak mengeluh pada tubuhnya
•      Menunjukan kegelisahan dengan menggigit kuku, gigit bibir, memilin- milin rambut.
b.     Sosial
•      Sangat tinggi dalam kompetitif
•      Self aware
•      Tidak sabar
•      Sering merasa khawatir, cemas
•      Membuka jarak dengan orang lain
•      Sering mengeluh; masalah persamaan
•      Melihat orang dewasa secara tidak konsisten & sebagai kontrol
•      Kritis
•      Sering marah dan berubah-ubah emosinya
•      Individualistik
c.     Bahasa
•      Menggunakan kata-kata bersifat deskripsi
•      Senang bermain dalam kata dan bahasa serta informasi
•      Bahasa seperti bayi kadang muncul kembali
•      Menggunakan kata-kata yang melebih-lebihkan
•      Saat banyak menggunakan kata-kata negatif seperti: aku benci itu, aku tidak bisa.
•      Senang bercanda yang sifatnya jorok
•      Mencampuradukan bahasa ketika bicara
d.     Kognisi
•      Senang menghasilkan sesuatu dan mengoreksi diri sendiri
•      Mulai mengenal dunia yang lebih luas
•      Sedikit berimajinasi
•      Rasa ingin tahu secara intelektual
•      Mampu beradaptasi dengan beberapa kondisi yang dia hadapi
•      Bermasalah dengan kondisi abstrak, angka-angka yg banyak, masa waktu dan ruang
4)         Ciri-Ciri Perkembangan Anak Usia 10 Tahun
a.     Fisik
•      Perkembangan otot besar
•      Sangat membutuhkan waktu diluar ruangan dan tantangan fisik
•      Tulisan tangan cenderung tidak rapi
•      Makanan ringan dan waktu istirahat membantu pertumbuhan tubuhnya
b.     Bahasa
•      Pendengar yang baik
•      Banyak membaca
•      Ekspresif, suka menjelaskan, aktif bicara
•      Bekerjasama dan bersaing
•      Bersahabat, bergembira
c.     Kognisi
•      Daya ingat cukup produktif
•      Kemampuan pada hal yang abstrak mulai meningkat
•      Menyukai aturan dan hal-hal yang masuk akal
•      Mengklasifikasi dan mengumpulkan hal-hal yang disukai
•      Bangga dengan hasil akademiknya

5)     Ciri-Ciri Perkembangan Anak Usia 11 Tahun
a.     Fisik
•      Meningkatnya nafsu makan, kegitan dan bicara
•      Munculnya pubertas pada sebagian anak perempuan
•      Gerakan yang stabil, kurang waktu istirahat
•      Sering kena flu dan kadang infeksi telinga
•      Butuh istirahat yang cukup
b.     Sosial
•      Peka, emosinya tidak stabil
•      Bersebrangan pendapat
•      Emosional
•      Mudah masuk/keluar dari kelompoknya
c.     Bahasa
•      Senang berbicara ditelepon
•      Selalu menuruti kata hati, bicara sebelum dipikirkan
•      Bicara kasar
•      Suka beragumen, pendebat ulung
d.     Kognisi
•      Suka tugas baru dan berpengalaman untuk mereflesikkan atau memperbaiki tugas berikutnya.
•      Dapat berfikir abstrak
6)     Ciri-Ciri Perkembangan Anak Usia 12 Tahun
a.     Fisik
•      Energi tinggi
•      Butuh banyak istirahat
•      Makan itu sangat dipentingkan
•      Pendidikan jasmani sangat dibutuhkan
b.     Sosial
•      Mulai tampak kepribadian orang dewasa
•      Dapat memberikan alasan yang lebih masuk akal
•      Teman sebaya lebih penting dari pada guru
•      Muncul rasa aman terhadap dirinya
•      Peduli terhadap dirinya dan sangat pengertian
c.     Bahasa
•      Muncul kekasaran
•      Memiliki makna ganda, bermain kata-kata, bercanda sesuai kemampuan
•      Asyik ngobrol dengan orang dewasa atau teman sebayanya bahasa “gaul”
d.     Kognisi
•      Kemampuan memahami hal yang abstrak meningkat
•      Muncul kemampuan pada keterampilan area tertentu
•      Sangat tertarik pada hal-hal baru, politik, keadilan sosial.
I.  Masalah Perkembangan Psikologi Anak Usia Sekolah Dasar (SD)
Masalah adalah ketidaksamaan antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat nya sebagai tidak   terpenuhinya harapan sesuatu kebutuhan seseorang, ada pula yang mengartikanya sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Masalah yang dialami siswa sekolah dasar dapat bermacam-macam sesuai dengan corak dan ragamnya. Keragaman tersebut dapat dilihat dari intensitas dan kuantitasnya,secara intensitasnya, masalah siswa sekolah dasar dapat bergerak dari masalah yang bersifat temporer, sedangkan kuantitasnya masalah siswa dapat diklasifikasikan menjadi enam yaitu : masalah perkembangan jasmani dan kesehatan, masalah keluarga, masalah-masalah psikologis, masalah-masalah sosial, kesulitan belajar, dan masalah motivasi pendidikan ypada umumnya. Perkembangan psikologi anak usia sekolah dasar memang merupakan sebuah hal yang sangat disorot. Pada masa ini, anak akan mendapatkan beragam masalah karena ia baru saja mengenal dunia baru yaitu dunia sekolah. Anak akan berintreraksi dengan lebih banyak orang yang bisa memajukan atau bahkan memberikan pengaruh negative terhadap perkembangan psikologinya.
Ada beberapa masalah perkembangan psikologi anak usia sekolah dasar:
1. Hiperaktif
Hiperaktif merupakan sebuah gangguan psikologi yang terjadi pada anak dan cukup sering terjadi. Anak akan cenderung bergerak aktif dan bahkan menjadi super aktif dalam lingkunganya. Anak ini umumnya dapat membahayakan teman-temanya akibat prilaku yang terjadi secara spontan dan fikir panjang.
2. Sulit berkonsentrasi
Anak dengan  konsentrasi yang buruk bisa membuatnya kesulitan apabila harus belajar dalam waktu yang lama dan mengerti mengenai beberapa materi pembelajaran, mereka cenderung mudah terpengaruh terhadap hal yang ada disekitarnya, sehingga tidak mampu berkonsentrasi secara maksimal.
3. Pemurung dan Penyendiri
Anak pemurung dan penyendiri biasanya sangat sulit bergaul dan cenderung merasa malu dengan keadaan mereka sendiri. Anak-anak seperti ini juga tidak boleh dibiarkan berlarut karena jiwa sosial mereka tidak bisa berkembang jika selalu dibiarkan.
4. Masalah Bicara
Pada masalah ini anak-anak mempunyai masalah mengenai artikulasi dimana pembicaraan yang mereka lakukan kurang jelas dan sulit diterima oleh lawan bicara. Salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan untuk memecahkan masalah ini dengan terapi bicara. Seorang anak akan diajarkan bagaimana cara berbicara dengan konsep yang pelan, lambat, namun jelas.
Menurut Wentzal dan Asher (para pakar perkemkembangan) mereka menyatakan 3 tipe anak yang tidak popular yaitu:
1.       Anak yang diabaikan (Neglected children)
2.       Anak yang ditolak (rejected children)
3.       Anak yang kontrovesi (controversial children)
Ciri-ciri anak pada masa kelas rendah
  1. Ada hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
  2. Suka memuji diri sendiri
  3. Jika tidak dapat menyelesaikan suatu tugas, tugas itu dianggap tidak penting
  4. Suka membandingkan dirinya dengan orang lain, jika hal itu menguntungkan untuk dirinya.
  5. Suka merugikan orang lain
  • Ciri-ciri anak pada masa kelas tinggi
  1. Perhatiannya tertuju pada kehidupan sehari-hari
  2. Rasa ingin tahu, ingin belajar, dan realistis
  3. Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus
  4. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya disekolah.
  5. Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya, mereka membuat peraturan sendiri dengan kelompoknya.


MY DAILY ACTIVITIES

DAILY ACTIVITIES
            Before I talk about my daily activity allow me  to introduction my self. My name is Muhamad Dika Anugrah, I live in Taman Pipitan Indah, Walantaka, Serang. I was born in Serang 16 june 1996. I’am is the first child from four daughter. I’am as student of Sultan Ageng Tirtyasa Universty, Faculty of social sciences and politics, Government Sciences since 2014. And now I want to tell about My dialy activity.
            Every day, I usually get up early in the morning at 05.30 am. I pray Subuh , read Al-qur’an and continue for sleep again. At 06.30 am I awake and bursh my teeth so take a bath, after that I preaper my self for going to campus, so I do not forget for take a breakfast with my family, after ferewell with my parent, I with my young brother go to school together. Before I go to campus I must to accompany my young brother go to elementary school. After  accompany my young brother to his school I continue my trip to campus at 07.10 am. At 08.25 am I have arrive in the class. And I begin for study at 08.30 am until 10.00 am. I take a rest at 10.10 am usually I go to canteen with the others for having snacks or lunch in “ Ibu Rohani Resto”. At 12.30 pm after pray Dzuhur I go to class and continue my subjects. It tells us that our class is over. I retrun home. I arrive home at 04.00 pm, I put of my bag and change to clothes.
            At 04.30 pm after pray ashar I watch television or playing game in my computer, I watch television with my young brother and play game with him but sometimes I visit my friend for play together and around Serang in the afternoon. Usually I use motorcycle to around Serang city until 05.30 pm. I back to home and take a bath so prepare my self for pray Magrib in the mosque. After pray magrib I back to home and take a dinner with my family at 07.00 pm, than I wacth television together with my family in the central room while wait adzan isya. After that enter to my room for doing task and be gathered to my lecturer tomorrow. Than finished I prepare my self to sleep at 10.00 pm but before that usually I chat on BBM ( BlackBerry Masengger) or in Facebook with my friend, after I feel to sleep I close my handphone and begin for sleep tonight at 11.00 pm.
            Sometimes if tomorrow is holiday, my friend come into my house for fuel brunt in midnight  we joke together, make some littel party in my house like make some food and eat together, or play game together until we weariness and decide go to sleep. But sometimes we watch football together until we do not sleep in the night but it just we doing if tomorrow is free day or holiday.
            After it my activity back to normal if this day is school day, my activity come to normal same like what I tell now but if in the morning of free day usually I jogging with my young daughter to around my housing TPI or jogging at alun-alun Serang Court.

            Seems just it talk about my dialy activity, others day is same like what I do in the task about my dialy avctivty. Schedule of activity must be great for our self because if the schedule neatly arranged will have an impact for our self.

PARTAI INDONESIA

 Partai dan pemilihan umum sejak 1998: The konfigurasi ulang setelah Suharto tekanan untuk mereformasi pemerintahan besar segera setelah kekuatan mentransfer dari Suharto ke Habibie pada Mei 1998. Pemerintah baru tidak memiliki pilihan lain daripada untuk mengesahkan mengatur partai politik. Penting undang-undang pemilihan, komposisi parlia yang nyata, partai politik, dll disahkan oleh pihak Orde Baru dan anggota parlemen dari militer tanpa persetujuan langsung dari pihak-pihak yang baru didirikan. Dalam banyak hal itu transisi 'dari atas'. Oppositionists yang paling menonjol – Abdurrahman Wahid (PKB), Amien Rais (PAN) dan Megawati Sukarnoputri (PDI-P) – yang masih dikesampingkan sampai kampanye pemilu tahun 1999.
Total 148 pihak yang resmi terdaftar. Setelah proses panjang skrining, 48 ini akhirnya diizinkan untuk mengambil bagian dalam pemilu Juni 1999. Semua jenis pihak diciptakan untuk kelompok profesional tertentu (Partai Mencerdaskan Bangsa untuk mengajar orang-nel), kelompok etnis (Partai Reformasi Tionghoa Indonesia), pekerja (Partai Buruh Nasional, Partai rangkaian Pekerja Seluruh Indonesia), wanita (Partai Perempuan Indonesia), orang tua (Partai Lansia Indonesia) dan kelompok agama minoritas (Partai Buddhis umum Hatimuby-sia, Partai Katolik Indonesia, Partai Kristen Nasional Indonesia, dll.). Selain itu, beberapa Barat-ern-gaya pihak seperti Partai Hijau (Green Party) dan Partai Liberal peristiwa Indonesia (Partai Demokrat Liberal Indonesia) diciptakan selain PUDI (Partai Uni peristiwa Indonesia, Partai Demokrat Inggris Indonesia) sebelumnya ilegal dan PRD (Partai Rakyat Demokratik, Partai Rakyat Demokratik) dengan program-program Sosial Demokrat, setidaknya sampai batas tertentu) (Suryakusuma 1999; Kompas 2004a dan 2004b). Semua ini kelompok-mua-pertemuannya gagal. Untuk menjadi sukses, pihak diperlukan infrastruktur dan hubungan dibangun atas dur-ing masa Orde Baru (Golkar, PPP dan, hingga tingkat tertentu, PDI-P), dukungan langsung dari organisasi keagamaan (PKB, PAN, PPP, PBB, dll) dan jaringan akar rumput diciptakan lama sebelum (PK).
Dalam jajak pendapat ada banyak spekulasi Apakah pola aliran 1950-an akan muncul kembali. Pada akhirnya, ternyata politik bahwa aliran masih memainkan peran, tetapi dalam bentuk yang berbeda dari tahun 1950-an, dan bahwa beberapa mekanisme lain melakukan bentuk perilaku pihak dan pemilih, terlalu. Hasil pemilu 1999 (Ananta/Arifin/Suryadinata 2004; Kompas 2004a) diindikasikan kemenangan untuk moderat Islam dan sekularisme. Pihak yang berdiri untuk sikap tegas pada Islam masalah dengan kecenderungan untuk mendukung Islamisasi konservatif negara seperti PPP, PBB dan PK dilakukan parah dan menerima hanya 14% suara sama sekali. PKB dan PAN, yang sebagian besar memiliki pengikut Muslim ortodoks, memperoleh hampir seperlima dari suara bersama-sama, tetapi mereka sekuler, orientasi Pancasilais menghalangi sebagian perdebatan di par-liament pada pengenalan hukum Syariah atau bahkan sebuah negara Islam dari awal. Dalam jajak pendapat 2004 (Sebastian 2004; Aspinall 2005; Hadiwinata 2006; Ananta / Arifin / Suryadi-nata 2005), tidak lebih dari 24 pihak diizinkan untuk berpartisipasi karena restrictions.9 hukum tambahan meskipun pemilihan pada dasarnya dicirikan oleh gempa, beberapa mengatakan-ing pergeseran terjadi yang menandakan percepatan dealiranisasi dari 1999 hingga 2004. Golkar memenangkan 21.6% (1999: 22.5%) dan sekarang Partai terkuat di Parlemen. PDI-P mengalami kekalahan mengejutkan dan kehilangan lebih dari 15 persen karena kecewa dengan Presiden Megawati dan kinerja PDI-P politisi pada umumnya. Kejutan besar lain selain menghancurkan hilangnya PDI-P dan the rise mendadak umum adalah kemenangan PKS Islam (formerly PK), yang memenangkan 7,3% suara. Partai itu bahkan bisa datang pertama di Jakarta, sebelum PD. Hasil ini mengungkapkan luas ketidakpuasan dengan partai-partai yang mapan, terutama di ibukota. PKB, PPP dan PAN setiap kehilangan sedikit. Kinerja suram mereka hanya dibayangi oleh menghabisi sampai tuntas PDI-P.
Enam dari sepuluh pihak terbesar di Parlemen Nasional saat ini Islam dan empat Seku-lar (Lihat tabel 3). Paling penting pembelahan penataan sistem partai secara keseluruhan adalah membagi sekuler dan partai-partai Islam. Yang terakhir dibagi menjadi moderat Islam dan parties.10 Islam polarisasi antara democracy status quo dan pro pihak im-dan seketika setelah jatuhnya Suharto segera mereda. Hari ini, cleavage11 ini hampir tidak tercermin

Tabel 3: Hasil pemilihan untuk tahun 1999 dan 2004 (DPR) *

Party
Votes 1999 ( in %)
Seats 1999
Votes 2004 ( in %)
Seats 2004**
Golkar
22.5
120
21.6
127
PDI-P
33.8
153
18.5
109
PKB
12.6
51
10.6
52
PPP
10.7
58
8.2
58
PD
-
-
7.5
56
PK (2004: PKS)
1.4
7
7.3
45
PAN
7.1
34
6.4
53
PBB
1.9
13
2.6
11
PBR
-
-
2.4
14
PDS
-
-
2.1
13
Other parties

26

12
TNI***

38

-
Total

500

550

Anggota Chamber pertama, DPR (Dewan Perwakilan Rakyat, DPR), dipilih dengan sistem proporsional di multi beranggota. Ruang kedua, Kongres Rakyat (Ma-jelis Permusyawaratan Rakyat, MPR), terdiri dari anggota DPR dan 132 perwakilan provinsi. Yang kedua merupakan DPD relatif lemah (Dewan Perwakilan Daerah, perwakilan daerah), yang didirikan pada tahun 2004. Mereka yang Terpilih dengan mayoritas sistem multi beranggota dan tidak al - lowed untuk menjadi anggota partai politik. Selain itu, ada pemilihan presiden langsung sejak 2004 dan langsung pemilihan wali kota, kepala distrik dan Gubernur sejak tahun 2005. ** Alokasi kursi disesuaikan sesuai dengan keputusan pengadilan konstitusional. Militer (TNI, Tentara Nasional Indonesia) secara otomatis menerima kursi 38 dari 1999-2004. Catatan: Partai Golongan Karya (Golkar), kelompok fungsional Partai Partai peristiwa Indonesia-Perjuangan (PDI-P), Partai Demokrasi Indonesia-perjuangan Partai itu merupakan peringatan Bangsa (PKB), kebangkitan Partai Partai Persatuan Pembangunan (PPP) nasional, Partai Persatuan Pembangunan Umum (PD), Demokrat Partai Partai Keadilan (PK), Partai Keadilan (2004: Partai Keadilan Sejahtera, PKS, keadilan dan kemakmuran Partai) Partai Amanat Nasional (PAN), Partai amanat Nasional Partai Bulan Bintang (PBB) , Bulan sabit dan bintang partai Partai Persatuan Pembangunan Reformasi (PPP Reformasi), Inggris pengembangan Partai Reformasi (2004: Partai Bintang Reformasi, PBR, bintang partai reformasi) Partai Damai Sejahtera (PDS), kemakmuran dan perdamaian Partai
di Parlemen sama sekali. Golkar PDI-P, misalnya, yang hampir tidak berbeda ketika datang ke sikap mereka pada isu-isu kebijakan, keterlibatan mereka dalam skandal korupsi dan cara pihak aparat dikelola. Para pihak sekuler adalah Golkar, PDI-P, PDS (pada dasarnya Kristen) dan PD.12 The PDI-P, yang memiliki banyak pengikut di antara orang Kristen dan sekularis, masih diidentifikasi dengan Su-karno, sangat populer dan karismatik Presiden pertama Indonesia. Megawati, putrinya dan ketua Partai, masih mewujudkan tradisi Sukarnoist ini. Partai-partai Islam yang enam adalah PKB (moderat tradisionalis Islam), PPP (Islam dengan modern-dengan dan tradisionalis), PKS (modernis Islam), PAN (moderat modernis), PBB (mod-ernist Islam, menyatakan diri penerus Masyumi) dan PBR (dibagi dari PPP). PKB dan PAN mendefinisikan diri mereka sebagai sekuler, tetapi kenyataannya mereka partai-partai Islam moderat. PKB terhubung langsung ke tradisionalis Islam Nahdatul Ulama (NU), yang secara resmi memiliki sekitar 40 juta anggota. PANCI, dalam banyak cara antagonis PKB, memiliki hubungan yang kuat untuk perkotaan, modernis Islam organisasi massa Muhammadiyah, yang mengklaim memiliki anggota beberapa 35 juta.
Juga ada dua pihak jenis baru: Umum (Partai Demokrat) dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, didirikan pada tahun 2001, dan Partai Keadilan dan kemakmuran, PKS. Tak satu pun dari mereka memiliki setiap pendahulunya di tahun 1950-an atau Orde Baru. PKS adalah sebuah efisien terorganisir, kader partai Islam. Pelanggaran disiplin Partai mengenai perilaku moral atau korupsi yang dihukum. Para kader adalah sebagian besar laki-laki muda, berpendidikan, dan Partai menggabungkan teknik manajemen Barat dan indoktrinasi Islam dengan cara yang unik. Berbeda dengan mereka, umum hampir sepenuhnya bergantung pada Susilo Bam-bang Yudhoyono. Dia menggunakan PD sebagai kendaraan di pemilihan presiden langsung pertama pada tahun 2004. Dua dari empat partai besar tahun 1950-an (PNI, Masyumi, NU dan PKI) memiliki penerus langsung hari ini. Ada kelanjutan jelas antara PNI dan PDI-P serta antara NU dan PKB. Mayumi sekarang dibagi menjadi beberapa pihak modernis, dan PKI hanya tidak lagi ada. Golkar telah mengambil pemilih dari sumber yang berbeda. Meskipun ada beberapa perbedaan antara sekarang dan tahun 1950-an, politik aliran masih sali-THT. Sistem partai disusun oleh beberapa sama konflik mendasar, yaitu antara politik Islam dan sekularisme dan antara tradisionalis dan modernis Islam. Tapi itu akan menyesatkan hanya mentransfer kerangka Geertzian ke kontemporer partai politik dan untuk mengabaikan perubahan sosial dan budaya yang mendasar. Garis pemisah di antara tradisionalis dan modernis Islam menjadi agak kabur, dan bahkan diferensiasi menjadi-tween abangan dan santri dipertanyakan karena perluasan Islam ortodoks seluruh Nusantara (proses yang disebut santrinisasi). Sedangkan di tahun 1950-an proporsi abangan adalah seharusnya sekitar setengah atau bahkan dua pertiga dari jumlah penduduk Muslim, hari persentase telah menurun secara signifikan (misal: Liddle 2003). Budaya priyayi lama adalah menurun, dan politik kiri radikal hancur pada tahun 1965 / 66. Primordial kesetiaan sekarang lebih lemah dari tahun 1950-an karena kemajuan sosial-ekonomi, peningkatan fasilitas pendidikan, urbanisasi dan dampak dari media massa. Sedangkan di tahun 1950-an afiliasi etnis atau agama sangat ditentukan partisan loyalitas dan pemungutan suara perilaku, hubungan saat ini jauh lebih kompleks. Dalam konteks ini, misal: Liddle dan Mujani (2006) telah menunjukkan bahwa prognosticating pilihan partisan individu dalam kaitannya dengan piousness nya (seperti yang didefinisikan oleh terlibat dalam praktek-praktek keagamaan yang spesifik) sulit hari ini. Namun demikian, menggunakan bivariate dan beberapa teknik regresi, raja (2003) menunjukkan bahwa ada sebuah kesinambungan yang luas di hasil pemilu (1955 dan 1999) di tingkat kabupaten. Dia berkorelasi dukungan untuk partai besar dan menemukan kesamaan yang menyarankan bahwa dasar kesetiaan kepada pihak, pada dasarnya didefinisikan dalam hal agama, bertahan meskipun pergeseran sosio-ekonomi.
Namun demikian, penggunaan istilah abangan dan santri hari ini dipertanyakan. Lebih masuk akal untuk membedakan antara 'pengikut politik Islam' (semuanya Ortodoks Mus-lims) dan 'sekularis' (Kristen, syncretists, dan Muslim Ortodoks tidak tertarik politi-cising agama mereka). Analisis regresi kemudian dapat mengakibatkan korelasi kuat daripada misal: Liddle dan Mujani's (2006).13 model aliran politik yang diubah ini berbeda dari dua versi yang disajikan oleh Geertz (1960 dan 1963) dan memperhitungkan perkembangan sosial-ekonomi dan agama sejak 1950-an. Hasil pemilu tahun 1999 dan 2004 mirip dalam banyak hal 1955.14 tapi aliran saat ini berbeda dan – lebih penting-pihak yang tidak lagi sosial yang nyata bergerak dengan jaringan mereka sendiri ketat organisasi (Antlöv 2004a: 12). Mereka biasanya dipimpin oleh pemimpin yang sangat kuat yang berhasil terpusat pengambilan keputusan. Beberapa dari mereka, seperti Megawati Sukarnoputri dan Abdurrahman Wahid, menikmati hampir kultus status.15 di the 1950-an, kegemilangan perselisihan dalam pihak yang sering dinyalakan oleh isu-isu ideologis, sedangkan hari bertengkar lebih tentang gaya kepemimpinan dan posisi. Saat ini pihak control milisi dan elit mereka sendiri menjauhkan diri lebih sering dari partai politik, antara lain karena programmatical shallowness.16 selama pemilu 1955, dampak politik uang adalah jauh kurang mencolok daripada saat ini. Calon Partai posting dan untuk legislatif mungkin tidak harus membayar untuk menjadi nominasi. Meskipun Partai pembiayaan pada 1950-an dalam banyak kasus ternoda oleh korupsi atau pengaruh dipertanyakan, 17 politik adalah tidak yang erat saling berhubungan dengan bisnis seperti sekarang ini. Selain itu, pihak pada 1950-an re-berbohong pada jaringan yang luas di tingkat desa dan dukungan aktif yang dicari oleh desa elites.18 hari, Jaringan ini dalam bentuk yang berbeda masih ada, tetapi identifikasi langsung dengan pemimpin partai melalui media massa telah meningkat pesat. Pengamatan ini digarisbawahi oleh sejumlah survei yang dilakukan pada hari years.19, mereka menunjukkan bahwa transformasi ini memang telah mengambil tempat. Mereka menggambarkan, misalnya, bahwa sebagai konsekuensi dari mengikis sosial milieus, loyalitas partai yang menurun. Sebuah laporan oleh Yayasan Asia (2003), misalnya, mengungkapkan bahwa, dengan mengacu pada Parlemen elec-tions, ada proporsi sangat tinggi bebas-pengidentifikasi atau 'ayunan suara' dalam elec-torate (Asia Foundation 2003:100). Yayasan internasional untuk sistem pemilihan menemukan dalam survei nasional (IFES 2004a) yang 40. 2% dari mereka yang memilih untuk Golkar dalam pemilihan anggota parlemen tahun 2004 memilih untuk Susilo dan bukan untuk calon resmi Partai mereka sendiri, Wiranto, dalam putaran pertama pemilihan Presiden. 23.7% dari pemilih PDI-P memilih Susilo oleh pemungutan suara, dan 22.7% dari pemilih PPP cast suara mereka untuk Amien Rais dan tidak Partai calon, Hamzah Haz. 40% dari pemilih PBB, seharusnya Islamis, didukung Susilo. Lain IFES survei (IFES 2004b) mengungkapkan bahwa 84% dari mereka yang telah memilih PKB PBB, PBR, dan PAN memilih Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla dalam putaran kedua pemilu presiden dan bahwa 82% dari pemilih Golkar di 2004 Nasional elec-tions memilih Susilo dan Yusuf Kalla di Presiden kedua pemungutan suara, meskipun Pimpinan Pusat resmi didukung Megawati dan Hasyim Muzadi.
Survei yang dilakukan oleh lembaga survei Indonesia (Lembaga Survei Indonesia, LSI, 2006) menunjukkan bahwa identifikasi dengan partai politik menurun dari pemilihan pada tahun 2004 awal 2006. Hanya 25% lebih dari 1.200 Indonesia bisa mengidentifikasi dengan Partai tertentu. Temuan lain adalah bahwa 90% dari pemilih tidak menyadari mereka pihak sikap kebijakan impor beras dan 94% tidak tahu apa sikap mereka adalah kenaikan harga minyak, lat-ter mungkin yang paling penting keputusan politik pada tahun 2005. Indikator lain dari proses dealiranisasi, dipahami sebagai pergeseran dan melemahnya Geertzian aliran, merupakan dinamika politik lokal. Pilkada20, yaitu pertama langsung pemilihan kepala daerah (Gubernur, kepala distrik dan wali) yang dimulai pada tahun 2005, memiliki setan-didemonstrasikan pemilihan calon partai politik, keputusan pemilih dan gedung partisan koalisi yang dalam banyak kasus tidak hasil dari kesetiaan jangka panjang di milieus sosial tertentu tetapi keputusan pragmatis. Banyak koalisi dibentuk hanya demi pemenang. Di Maluku, bahkan PKS dan PDS, yaitu Islamis dan de-Fender seharusnya sungguh-sungguh Kekristenan masing-masing, membentuk sebuah koalisi (Rinakit 2005; Djadijono 2006). Singkatnya, pendekatan aliran masih tampaknya menjadi alat analisis cukup berguna seperti yang ditunjukkan oleh hasil pemilihan pada tahun 1999 dan 2004 dibandingkan dengan orang-orang dari 1955. Namun, proses dealiranisasi, yang mencakup perilaku politisi dan pemilih yang sama, panggilan untuk konsep yang jauh lebih rumit cukup dipahami batin kerja partai politik di Indonesia.
4. ' Philippinisation': indikasi Partai perubahan perbandingan dengan pihak Filipina akan diperkenalkan di sini untuk lebih memahami dinamika masa depan saat ini dan mungkin politik Partai Indonesia. Kedua negara sangat mirip dalam hal tingkat sosio-ekonomi mereka, kualitas demokrasi (menurut Freedom House dan pemerintahan IV), sejarah politik (demokrasi di tahun 1950-an, kemudian neo - otoritarianisme patrimonial dan demokratisasi kembali) dan fitur kunci dari sistem gov-ernment (presidentialism). Partai politik di Filipina ditandai oleh kurangnya bermakna platform, oleh frekuensi tinggi Partai-switching, jangka pendek membangun koalisi, perpecahan, serta dissolutions dan re-negatifnya (Rocamora 2000; Arlegue / Coronel 2003; Tee - hankee 2006). Pihak sebagian besar tidak aktif di antara pemilu, keanggotaan angka rendah, karena tingkat organisasi. Sebagai akibatnya, lanskap Partai labirin. Sejumlah pihak dengan nama yang serupa tetapi tidak berarti bersaing dalam sistem pemilihan yang sangat kompleks
setiap tiga tahun. Mayoritas dari mereka adalah hanya beberapa tahun. Mereka sering didirikan atau diaktifkan oleh calon Presiden yang menentukan pilihan Kongres dan lo-cal calon bersama-sama dengan beberapa pemimpin politik nasional lainnya dan memutuskan esensial adalah - menggugat dalam cara yang otoriter. Di Parlemen, pihak-pihak ini berfungsi sebagai kelompok-kelompok kepentingan anggota parlemen mencari mudah akses ke sumber-sumber keuangan. Karena Presiden tidak mengontrol mesin efisien Partai, ia adalah bergantung pada setempat ketika datang ke pemilih mobilisasi. Kampanye difokuskan pada calon, bukan pada pihak. Alasan lain untuk institusionaliasi mereka lemah adalah ukuran besar biaya kampanye. Pihak tidak lengkap fi-nancially di antara pemilihan Naikkan Dana mereka dari mereka sendiri MPs, calon dan sponsor. Elit politik di Filipina cartelised: politisi berbagi rampasan dari fice, mereka memblokir pesaing baru dan menangkis populer tuntutan untuk fundamental reformasi. Di Indonesia, ada sebuah trend konvergensi dengan sifat-sifat ini Filipina partai politik. Yang paling jelas, dijelaskan secara rinci di bawah ini, adalah sebagai berikut: munculnya pihak Presiden, sifat-sifat otoriter pihak yang cenderung factionalised, banyaknya tujuan murni materialistis ('uang politik'), kurangnya rinci program, lemah kesetiaan terhadap pihak, pembangunan kartel dengan cairan koalisi, dan munculnya setempat. Bangkit dari Presiden Partai dan Presidentialisation dari pihak karena amandemen konstitusi, pengenalan langsung pemilihan Presiden dan penguatan kepresidenan dengan menaikkan tingkat meminta pemakzulan, Eksekutif telah tumbuh kuat dengan Parlemen. Partai politik telah kehilangan kemampuan untuk memilih Presiden di Kongres Rakyat (MPR) seperti yang mereka lakukan pada tahun 1999. Pemilihan langsung Presiden memfasilitasi munculnya pihak sebelumnya tidak signifikan sebagai kendaraan untuk calon Presiden. Contoh terbaik adalah umum util-ised oleh Susilo Bambang Yudhoyono.21 seperti pesta Presiden telah inconceiv-dapat di bawah sistem lama pemilihan langsung. PD memiliki platform tidak nyata dan masih kekurangan struktur organisasi yang kuat, terutama di bawah tingkat nasional. Pada terakhir Kongres pada tahun 2005, Kristiani Herrawati, istri Susilo dan Wakil Ketua Partai, dilaporkan Suk cendekiawan- Singkatnya, elit politik lokal dan regional baru telah muncul. Sampai batas tertentu mereka Diperiksa oleh politisi di Jakarta dan sering tidak identik dengan pemimpin partai lokal atau regional yang mapan. Oleh karena itu, pemberdayaan bos lokal baru belum mencapai proporsi Filipina belum. Elit lokal atau regional tidak memiliki dampak yang menentukan pada politik nasional di DPR atau di pusat pengurus partai politik. Dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah atau perwakilan daerah) tidak signifikan dibandingkan dengan DPR. Selain itu, delegasi yang tidak diperbolehkan untuk menjadi anggota partai politik. 5. kesimpulan sistem partai dua perbandingan dengan sistem partai politik Indonesia di tahun 1950-an dan dengan satu saat ini di bantuan Filipina untuk menelaah dua jenis dasar dinamika membentuk Indonesia sejak tahun 1998: dampak abadi politik aliran dan efek Gerusan 'Philippinisation'. Pertama pemilu nasional tahun 1955 mengakibatkan sistem partai yang terstruktur oleh aliran. Selama masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965) mengkilat utama beberapa memperdalam yang membawa perang saudara. Sepanjang era orde baru (1965 / 66-1998), oposisi menahan dan politik aliran ditundukkan, tetapi akar penyebab konflik sosial tidak berarti dihilangkan. Meskipun empat dekade otoriter, yang secara efektif membatasi kebebasan organisasi partai politik, banyak dari pihak tua kembali memasuki dunia politik pada tahun 1998. PKB, misalnya, yang pendahulunya adalah Partai NU 1950-an, didasarkan pada jaringan besar dari sebagian besar pedesaan, agama Pesantren (pesantren) dan mereka karismatik pengabungan, kiai, dan PDI-P (1955: PNI) pesta sekuler yang berkembang pada karisma abadi mantan Presiden Sukarno. Modernis Masyumi sekarang memiliki beberapa penerus (PBB, sebagian PPP, PAN, sebagian PKS). Aliran masih struktur sistem partai secara umum. Mereka sekarang berbeda dari yang di tahun 1950-an, namun. Dan bukan membedakan antara Geertzian abangan dan santri, itu jauh lebih berguna untuk membedakan antara sekularis dan pengikut Islam politik. Paling penting pembelahan penataan sistem partai secara keseluruhan sejak tahun 1998 adalah pihak sekuler dan Islam divid-ing satu. Yang terakhir, pada gilirannya, dibagi menjadi moderat dan partai Islam. Demi memahami secukupnya politik Partai Indonesia sejak tahun 1998, pendekatan yang berbeda harus dikombinasikan. Pusat mekanisme masih dijelaskan dengan mengacu pada pengertian tentang 'aliran'. Namun demikian, dinamika politik sejak Suharto menyiratkan proses dealiranisasi dan 'Philippinisation'.
Pihak Filipina ditandai oleh platform lemah, frekuensi tinggi Partai-switching, jangka pendek membangun koalisi, perpecahan, aktivitas aparat di antara elec-tions, angka rendah keanggotaan, dominasi calon Presiden, dan mencari sewa politisi bersama beroperasi di kartel. Berbagai faktor menunjukkan proses yang membawa sistem dua partai ini lebih dekat satu sama lain: pertama, naik dari Presiden atau presidentialised pihak, contoh utama yang umum Susilo Bambang Yudhoyono; kedua, otoriter dan personalism dengan kuat 'pihak penasihat' dan eksekutif yang menghukum anggota yang tegar, meminggirkan intra partai oposisi dan factionalisation lebih lanjut; ketiga, dominasi 'uang politik' dengan membeli posisi-posisi kandidat, anggota parlemen yang bertindak sebagai broker untuk perusahaan-perusahaan swasta, pengusaha mengambil alih Partai chairmanships, dan finan-ciers miliarder menentukan kebijakan dibelakang layar; keempat, erosi ideologi dengan platform politik yang miskin dan loyalitas Partai menurun; kelima, kartel seperti kerjasama par-ikatan seperti yang ditunjukkan oleh koalisi pelangi, mengumpulkan oposisi, musyawarah dan mu-Fakat masalah ini mekanisme dan kolusi dalam menoleransi korupsi; dan terakhir, munculnya baru, kuat elit lokal. Beberapa karakteristik lebih menonjol di bawah tingkat nasional. Yang pasti, 'Philippinisation' tidak menunjukkan konvergensi penuh partai politik di kedua negara Asia Tenggara. Elit lokal lebih retak di Indonesia dan melakukan tidak con-hibah pihak di Jakarta. Partai-switching adalah-setidaknya pada tingkat nasional – jarang. Pihak presidentialised jauh lebih sedikit dan politik Islam masih memiliki dampak yang kuat pada pihak behav-iour, sedangkan terlibat dalam politik agama di Filipina tidak struktur sistem partai. Ketahanan politik aliran menghambat penuh 'Philippinisation'. Tapi apa account untuk meningkatkan kesamaan? Selain reconfigurations nasional dan warisan (kerusakan politik kiri radikal, sisa-sisa otoriter, dll), perkembangan global menjelaskan beberapa tren di Indonesia. Karena internationali-sation dan presidentialisation politik, eksekutif mendapatkan penting. Selain itu, sta-meningkatkan kemampuan sumber dari kesetiaan politik tradisional menurun secara umum, dan para pemimpin politik dapat menarik langsung kepada pemilih melalui media massa.

Lain faktor yang menentukan adalah spesifik transformasi ekonomi Indonesia. Sedangkan di tahun 1950-an politik mencari sewa tampaknya telah terkandung hingga tingkat tertentu oleh pesaing politik dan pendukung aktif Partai, oleh komitmen ideologis yang kuat dari para pemimpin politik dan dalam banyak kasus oleh semata-mata kurangnya kesempatan, saat ini elit cartelised melihat politik untuk sebagian besar sebagai bisnis. Simbiosis baru pengusaha, politi-cians dan negara pejabat tampaknya menjadi akibat langsung dari Orde Baru dan koalisi yang Disewa-mencari elit militer, administratif dan politik. 30 Ufen: partai politik di Indonesia Post-Suharto pengembangan sistem partai seperti dijelaskan di atas adalah penyebab keprihatinan. Pihak Indonesia mungkin berevolusi lebih lanjut ke Filipina-seperti mesin politik. Hal ini juga mungkin, meskipun, bahwa ideologi baru akan muncul, baik mengambil bentuk neo-populisme kiri seperti Amerika Latin atau – yang merupakan lebih mungkin-sebagai Islamisasi. Karena kemerosotan abangan orien-tations dan dampak dari ide-ide sekuler Barat, membagi agama baru yang sedang dibangun. Agama adalah berulang kali terlibat dalam politik untuk alasan ini. Di Parlemen, masalah agama terletak dipanaskan diskusi di gerak, contoh-contoh terbaru yang menjadi perdebatan pada undang-undang anti pornografi dan pengenalan hukum syariah di tingkat regional. Pasti, ini tidak out-timbang erosi diilustrasikan tradisional loyalitas dan struktur partai.